easy bootstrap web page building

PENYAKIT ZOONOSIS

Jaga Makanan Tidak Terjangkit Bakteri Leptospira

Jika tidak ingin terjangkit penyakit leptospirosis, siapa saja perlu memastikan terlebih dahulu kondisi makanan dan minuman dalam kondisi steril. Jangan sampai Anda tidak cermat hingga mengkonsumsi makanan dan minuman yang ternyata telah terjangkit bakteri leptospira. Di Indonesia, penyebaran bakteri leptospira paling sering melalui perantara tikus. Berbahaya jika Anda sampai mengkonsunsi makanan dan minuman yang telah tercampur urine tikus terinfeksi leptospira.


Beberapa jenis hewan lain, seperti sapi, kambing, domba, kuda, babi, anjing, burung, serangga, dan landak juga dapat terserang pneyakit leptospirosis. Namun, potensi penularan bakteri leptospira dari hewan-hewan tersebut ke manusia tidak sehebat tikus. Urine tikus yang mengandung bibit penyakit leptospirosis dapat juga mencemari air di kamar mandi. Hal itu juga perlu diwaspadai. Bakteri leptospira bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit yang terluka, selaput lendir mata, dan hidung. 


Sekali berada di aliran darah, bakteri leptospira bisa menyebar ke seluruh tubuh dan mengakibatkan gangguan khususnya, pada hati dan ginjal. Setelah 2 hari -26 hari bakteri memasuki tubuh manusia, maka mulailah timbul gejala penyakit. Ada banyak gejala penyakit yang akan diderita jika sampai terjangkit bakteri leptospira, antara lain demam (ringan atau tinggi), nyeri kepala yang bisa menyerupai nyeri saat DBD, sering disertai tubuh menggigil, nyeri otot terutama di daerah betis, nyeri punggung dan paha, mual, hingga paling parah mata jadi berwarna kuning, gangguan ginjal, radang paru, dan radang otak.


Jika sampai terlambat tidak ditangani, penyakit leptospirosis bisa menyebabkan kematian pada manusia. Sebagai contoh, Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten, Jawa Tengah (Jateng), mencatat ada 38 warga Klaten yang terserang leptospirosis selama kurun waktu Januari-Mei 2017. Dari jumlah itu, lima orang di antaranya telah meninggal dunia. Disnes Klaten mengungkapkan faktor utama penyebab para penderita penyakit leptospirosis tersebut meninggal dunia lantaran telat terdeteksi sehingga telat pula penanganannya.


Bagi siapa saja yang mendapati gejala penyakit leptospirosis, disarankan mengakses alat rapid test leptospirosis di fasilitas kesehatan terdekat. Alat itu bisa mendeteksi inveksi bakteri leptospira pada tubuh manusia. Dengan deteksi awal, penanganan penyakit tentu juga bisa lebih cepat. Namun, belum tentu tubuh yang telah kemasukan bakteri leptospira akan menderita gejala sakit. Hal tersebut tergantung dengan daya tahan tubuh masing-masing. Jika daya tahan tubuh Anda baik, meskipun terpapar bakteri tetap tidak akan menderita sakit.


Bagi yang ingin terbebas dari infeksi leptospirosis, dapat diobati dengan suntikan antibiotik untuk membasmi bakteri dan mengembalikan fungsi tubuh yang terganggu. Obat-obatan antibiotik yang umumnya digunakan adalah penisilin dan tetracycline. Antibiotik biasanya diberikan selama sepekan dan proses pengobatan tersebut harus diikuti hingga akhir demi memastikan semua bakteri hilang. Hal itu penting untuk mencegah kemungkinan terulangnya infeksi dari bakteri yang sama.


Selain obat-obatan antibiotik, obat pereda rasa sakit yang memiliki kandungan parasetamol juga dapat diberikan untuk mengatasi gejala awal leptospirosis, seperti sakit kepala, nyeri otot, dan demam. Pada kasus leptospirosis yang parah dan atau yang terjadi pada masa kehamilan, penderita dapat dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan pengawasan yang lebih menyeluruh. Upaya tersebut perlu dilakukan untuk mencegah leptospirosis menyebar ke organ lain atau janin. Penderita akan diberikan suntikan antibiotik secara langsung ke dalam pembuluh darah. 


Penanganan kesehatan akan berbeda jika infeksi leeptospirosis telah menyerang organ tubuh. Diperlukan perawatan tambahan diperlukan untuk menjaga sekaligus mengembalikan fungsi dan kondisi tubuh. Penderita harus diinfus untuk memasukkan cairan dan nutrisi tambahan yang dibutuhkan tubuh. Selain itu, pendeeita juga perlu menggunakan ventilator sebagai alat bantu pernapasan, dialisis untuk membantu fungsi ginjal yang terganggu dalam proses pembuangan zat yang tidak dibutuhkan tubuh.


Lama perawatan penderita di rumah sakit ditentukan oleh tingkat keparahan leptospirosis. Penderita bisa menghabiskan waktu beberapa pekan bahkan berbulan-bulan di rumah sakit jika diperlukan, tergantung dari tingkat keparahan leptospirosis, kondisi tubuh, dan respons terhadap pengobatan. Komplikasi serius pada paru yang disebut severe pulmonary hemorrhagic syndrome merupakan penyebab kematian utama penderita leptospirosis di negara-negara berkembang. Selain itu, gagal ginjal akut dan disfungsi hati merupakan komplikasi lain yang dapat timbul pada kondisi tubuh terserang bakteri leptospira. (Putri Dewi Gustiyani)

Sumber foto:  

ilustrasi tikus makan manakan manusia

http://s.hswstatic.com/gif/mice-love-cheese-orig.jpg

HIPERTENSI

Hipertensi adalah suatu kondisi di mana tekanan sistolik darah > 140 mmHg dan / atau diastolik > 90 mmHg (WHO, 2013).

Hipertensi tidak menimbulkan gejala yang dapat dirasakan. Seseorang yang menderita penyakit jantung, stroke atau ginjal bisa saja tidak mengetahui bahwa menderita hipertensi sebelum dilakukan pemeriksaan. Hal inilah yang menyebabkan hipertensi dikatakan sebagai the silent killer.


Klasifikasi Hipertensi


Berdasarkan kriteria The Seventh Report of the Joint National committee (JNC 7), hipertensi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :


Klasifikasi Tekanan Darah         Tekanan Darah (mmHg) 

                                                   Sistolik                        Diastolik

Normal                                   ≤ 120                          Dan ≤ 80

Pre Hipertensi                      120-139                   Atau 80-89

Hipertensi I                            140-159                 Atau 90-99

Hipertensi II                          ≥ 160                        Atau ≥ 100

Klasifikasi Tekanan Darah Menurut Kriteria JNC 7 (U.S Department of Health and Human Services, 2004)


Tekanan darah sistolik biasanya dikaitkan dengan resiko relatif yang lebih tinggi pada penyakit jantung koroner, stroke, gagal jantung dan penyakit ginjal. Orang dengan tekanan darah diastolik 105 mmHg memiliki resiko terkena stroke sepuluh kali lipat dan lima kali lipat beresiko terkena penyakit koroner dibandingkan dengan orang yang memiliki tekanan darah diastolik sebesar 76 mmHg. Temuan ini menunjukkan bahwa penurunan tekanan diastolik sebesar 5- 10 mmHg dapat menurunkan resiko terkena serangan stroke sebesar 34% - 56% serta menurunkan resiko terkena penyakit koroner sedikitnya 21% - 37% (Macmahon dalam Laporan Komisi Pakar WHO, 2001)



MENJAGA KESEHATAN DI BULAN PUASA

Begini Cara Jaga Kesehatan Selama Puasa

Umat muslim yang mampu secara fisik diwajibkan berpuasa saat Ramadan tiba. Selain dijanjikan berlimpah pahala, kegiatan berpuasa memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh. Dengan berpuasa, tubuh dapat mengistirahatkan saluran pencernaan, hormon, enzim, hingga organ-organ tubuh lain yang biasanya difungsikan secara terus-menerus pada hari biasa. 

Saat melaksanakan puasa, perlu persiapan-persiapan supaya kesehatan tubuh tidak terganggu. Keluhan kesehatan yang kerap muncul saat berpuasa adalah dehidrasi dan sembelit akibat kurang asupan serat, air, dan terlalu banyak mengonsumsi makanan berminyak.

Agar puasa bisa berjalan lancar dan tubuh tetap sehat, Anda bisa menerapkan beberapa saran berikut ini:

Pertama, mengonsumsi banyak sayur-sayuran dan buah-buahan. Selain mengandung vitamin dan mineral, buah dan sayur mengandung unsur karbohidrat kompleks sehingga rasa kenyang akan bertahan lebih lama. Pilih buah dan sayur yang mengandung serat, mudah dicerna dan mengandung kadar gula (buah manis) seperti pisang, apel, pepaya, melon, anggur dan lain sebagainya.

Kedua, memperhatikan kebutuhan cairan tubuh. Secara umum, tubuh memerlukan 1,5 liter sampai 2 liter konsumsi air per hari. Pengaturan asupan air pada saat berpuasa perlu dilakukan sesuai aktivitas yang dijalani. Minumlah teratur di malam hari dan saat sahur guna membantu tubuh terhindar dari dehidrasi. 

Ketiga, pilih makanan mengandung karbohidrat kompleks, seperti beras merah, gandum, oat, dan beras hitam membuat kenyang lebih lama. Hindari mengkonsumsi karbohidrat sederhana karena akan dipecah sangat cepat oleh tubuh untuk digunakan sebagai energi. 

Keempat, sementara hindari atau kurangi konsumsi minuman kafein saat melaksanakan puasa. Kafein bersifat diuretik yang membuat tubuh lebih sering terpancing untuk buang air kecil. Hal tersebut membuat cairan dalam tubuh cepat hilang. 

Kelima, aturlah pola tidur. Pada saat berpuasa membuat pola tidur berubah. Perubahan ini terjadi karena waktu tidur terpotong oleh sahur. Atur pola istirahat dengan mengawalkan waktu tidur, contohnya, bisa memilih waktu tidur sesudah waktu salat tarawih, hindari begadang. Kurang tidur dapat memengaruhi kinerja otak dan dapat menyebabkan sejumlah penyakit dalam jangka panjang.

Terakhir, berbukalah dengan bijak. Saat waktu buka puasa tiba, jangan makan dengan porsi berlebihan. Dianjurkan buka diawali dengan makan buah kurma dan minuman yang manis seperti susu, jus buah, atau bisa sekadar air mineral. Setelah salat magrib, bisa melanjutkan berbuka dengan menyantap hidangan utama. Menu berbuka penting mengandung karbohidrat, protein, sayur dan buah-buahan.

Dengan menjalankan beberapa anjuran tersebut, mudah-mudahan siapa saja bisa lancar melaksanakan puasa tanpa menemukan kendala dan keluhan kesehatan yang tidak diinginkan.

Sumber foto: Repro/drtaylorwallace.com


PENYAKIT JANTUNG KORONER

Penyakit jantung koroner akut adalah suatu kondisi terjadi pengurangan aliran darah ke jantung secara mendadak. Beberapa gejala adalah tekanan di dada seperti serangan jantung, sesak saat sedang beristirahat atau melakukan aktivitas fisik ringan, keringat yang berlebihan secara tiba-tiba (diaforesis), muntah, mual, nyeri di bagian tubuh lain seperti lengan kiri atau rahang, dan jantung yang berhenti mendadak (cardiac arrest).

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit jantung koroner akut adalah merokok, tekanan darah tinggi (hipertensi), hiperlipidemia, diabetes melitus, aktifitas fisik, tekanan mental (depresi) dan obesitas. Penyakit jantung coroner ini lebih sering ditemukan pada pria berusia lebih dari 45 tahun dan wanita lebih dari 55 tahun. 

Penyakit jantung koroner ini sering disebabkan adanya penumpukan plak di pembuluh darah arteri (ateroskleoris koroner). Plak yang terdiri dari lemak akan menyumbat pembuluh arteri sehingga darah sulit mengalir. Akibatnya, jantung tidak dapat memompa darah kaya oksigen ke seluruh tubuh. Sebagian besar penyakit jantung koroner akut diakibatkan permukaan plak di arteri pecah dan menyebabkan pembentukan bekuan darah. Adanya penumpukan plak dan bekuan darah tersebut akan membatasi jumlah darah yang mengalir ke otot jantung dan menyebabkan sindrom tersebut.

Pasien dengan gejala penyakit jantung koroner akut akan mendapatkan pemeriksaan darah untuk melihat apakah keadaan sel jantung dan elektrokardiogram (EKG atau ECG) untuk melihat aktivitas elektris jantung. Jika kedua pemeriksaan tersebut menunjukkan adanya hambatan aliran darah ke jantung maka dokter akan membuka arteri pasien secepatnya. Umumnya, pasien yang mendapatkan penanganan berupa pembukaan arteri dalam empat jam setelah gejala terjadi, akan dapat pulih dengan cepat. Selain pemberian obat untuk melarutkan bekuan darah, pasien juga akan mendapatkan perlakuan yang disebut angioplasty (dokter membuka arteri dengan mengembangkan sebuah balon kecil). 

Bagaimana melakukan pencegahan terhadap serangan penyakit jantung coroner antara lain : 

  1. Melakukan Medical Chek Up, pemeriksaan angiogram dan kolesterol 
  2. Menurunkan kolesterol total dan trigliseride
  3. Olah raga secara teratur
  4. Berhenti merokok
  5. Menggunakan aspirin dosis rendah
  6. Mengurangi konsumsi makanan yang berlemak
  7. Perbanyak konsumsi buah dan sayuran hijau

HEAD OFFICE
BELTWAY OFFICE PARK, TOWER C, 2nd Floor,
Jl. TB. Simatupang Kav. 41. Jakarta 12550
PHONE : +62 21 808 66 088
FAX : +62 21 808 66 089
mail: marketing@medikaplaza.com


MP - BELTWAY CLINIC
BELTWAY OFFICE PARK, ANNEX BUILDING, Ground Floor, Jl. TB. Simatupang Kav. 41. Jakarta 12550
PHONE : +62 021 808 66 099
FAX : +62 21 808 66 098


MP - WTC 2 CLINIC
World Trade Center 2, Lower Ground Floor,
Jl. Jend. Sudirman, Kav. 29 Jakarta 12920
PHONE : +62 21 295 22 611
FAX : +62 21 295 22 610


24/7  HELPLINE 1500 918  
or
+62 21 8086 6000 

Thanks for filling out form!